Sedikit Catatan tentang Mahasiswa

Penulis

Mahasiswa. Satu kata yang sering mendengung di telinga kita. Mahasiswa. Sebuah kata yang sering dikejar-kejar, konon dapat mengangkat derajat seseorang. Entah berapa jengkal. Nyaris, semua orang ingin menjadi mahasiswa. Bila ia tidak menjadi mahasiswa, maka ia akan berusaha mati-matian agar anaknya menjadi mahasiswa. Suatu usaha yang cukup banyak menguras keringat, apalagi bagi orang yang berasal dari kalangan akar rumput (grass root).

Bermacam-macam tujuan ideal seseorang untuk menjadi mahasiswa. Ada yang mengatakan, ia menjadi mahasiswa untuk mencari ilmu pada bidang yang ditekuninya. Ada yang mengatakan bahwa ia menjadi mahasiswa karena ingin memeroleh masa depan yang (barangkali) cerah. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Benarkah?
Kalau boleh beridealisme, penulis menganggap bahwa mahasiswa yang hebat adalah mahasiswa yang memiliki tenaga ganda. Ia berperan sebagai akademisi/intelektual sekaligus merangkap sebagai aktivis. Di kelas kuliah, dia merupakan bintang kejora yang menjadi idaman teman-teman dan dosennya. Maksudnya, dia dapat melahap semua mata kuliahnya dengan gemilang. Dia adalah mahasiswa yang rajin, pintar (meski tidak jenius), dan dapat menyelesaikan semua tugas kuliahnya dengan baik dan benar.
Tenaga kedua, dia berperan sebagai aktivis. Mungkin Anda sebagai pembaca akan  berkata, “Biasanya, seorang aktivis kuliahnya tidak akan selesai-selesai karena dia selalu meninggalkan kuliah demi organisasinya”. Anggapan Anda tidak keliru. Bahkan anggapan Anda mengingatkan penulis pada film “The Devil Wears Prada” yang dibintangi  aktris cantik Anne Hathaway. Tokoh Nigel berkata pada tokoh Andrea, “Katakan padaku kalau kehidupan pribadimu sudah hancur,  karena itu berarti karirmu mulai naik!” Dalam konteks tulisan ini bisa kita analogikan, “Katakan padaku kalau kuliahmu merosot, karena itu berarti kariermu di organisasi akan naik!” Sekali lagi, apa ada yang salah dengan kalimat itu? Tidak! Tapi kita juga keliru bila mengatakan bahwa menjadi seorang aktivis akan ketertinggalan kuliah karena fakta di lapangan juga membeberkan bahwa ternyata banyak mahasiswa yang oke kuliahnya dan oke organisasinya.
Menjadi seorang aktivis, sebenarnya juga bisa melengkapi dan menyembuhkan kita dari sebuah kecacatan. Menjadi seorang organisatoris akan melepaskan kita dari predikat minor “mahasiswa akademis dan romantis” yang setiap hari hanya melakukan aktivitas monoton. Kuliah-kos-tugas-pacaran-lalapan. Dan begitulah seterusnya. Betapa bosannya! Tidak ada sesuatu yang menantang. Anda sebagai pembaca hanya dapat berkata, “Oh, betapa ruginya orang tua yang menguliahkan anaknya hanya untuk menjadi mahasiswa akademis dan romantis!”
Mari kita lihat realitas yang ada di depan mata kita! Memang, cita-cita primordial seorang mahasiswa persis seperti apa yang baru saja penulis katakan. Namun, ternyata fakta berbicara lain. Mahasiswa saat ini banyak yang melupakan komitmen mereka. Banyak yang melepaskan mimpi awal mereka menjadi mahasiswa. Jalan mereka tidak mulus. Ada banyak godaan di setiap lekuk jalan yang mereka tempuh. Godaan yang jauh dari cita-cita itu, bahkan dapat menjerumuskan mereka ke lubang hitam yang tiada berpangkal. Godaan itu begitu indah di mata mereka, tapi tidak lebih dari iming-iming yang dapat membuaikan isi kepala mereka.
Rokok. Bagi seorang mahasiswa, tentu uang yang digunakan untuk membeli rokok adalah keringat kuning orang tuanya, kecuali kalau ia memang berpenghasilan sendiri. Mahasiswa yang merokok adalah masiswa yang tidak pernah berpikir (atau pura-pura pikun) betapa orang tuanya membanting tulang agar dapat membiayai kuliah, bukan untuk membeli benda berbentuk batang tabung yang dapat mengeluarkan kabut beracun itu. Anda sebagai pembaca hanya dapat berkata, “Oh, betapa kasihannnya orang tua yang anaknya merokok!”
Pacar. Sebagai manusia yang sudah memasuki gerbang libido,  tentunya mahasiswa sudah mulai mencari-cari lawan jenisnya. Maka, kampus menjadi lahan mereka untuk mencari apa yang dapat mereka jadikan muara guna menyalurkan nafsu mereka. Maaf, penulis membedakan pacaran dengan cinta. Pacaran lebih berorientasi pada nafsu, sedangkan cinta adalah hubungan yang sakral. Sayangnya, ternyata pacaran juga menjadi semacam godaan yang lebih beracun daripada rokok. Waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan hal-hal yang semestinya, justru  terbuang percuma oleh ritual-ritual fardhu ‘ain pacaran. Katakan saja, kencan, telpon pacar, mencet-mencet tombol handphone untuk sms pacar, jemput pacar. Belum lagi masalah-masalah yang timbul, seperti pacar selingkuh, ternyatanya pacarnya homo, uang dikuras habis pacar, dan masalah remeh-temeh tak berguna lainnya. Sudah berapa banyak tenaga, waktu, dan uang yang dihabiskan untuk pacaran yang seharusnya dialokasikan untuk kuliah dan segala keperluannya? Anda sebagai pembaca hanya dapat berkata, “Oh, betapa kasihannnya orang tua yang anaknya pacaran!”
Dan masih banyak lagi godaan-godaan mahasiswa bila kita peka pada permasalahan yang menyangkut mahasiswa. Narkotik dan miras tak perlu penulis jelaskan, karena Anda sebagai pembaca sudah penulis anggap mengerti. Percayalah, semua yang penulis katakan adalah benar adanya!
Kesimpulannya, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang mampu merancang masa depannya sejak dini. Kalau perlu, dia mulai mencoba mencari penghasilan meski hanya sedikit-sedikit. Barangkali untuk membeli pulsanya sendiri. Syukur-syukur bila ia mencari uang dengan cara mengerahkan bidang yang ditekuninya. Jangan lupa, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang mampu mengharumkan nama almamaternya!

sumber tulisan:

komunikasi.um.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: